Langsung ke konten utama

Dia; yang tidak tahu aku 'Nyata'

Menyukai ataupun mencintai tak perlu memiliki kata penjelas kepemilikan sehingga bisa ditulis, bukan?

Dia hanyalah orang biasa di mata anak perempuan lainnya. Hanya si paling famous karena wajahnya, pun postur tubuhnya.

Aku mencintainya semunafik itu.

Melihatnya bermain bola di lapangan begitu hari sedang terik, menatap punggungnya. Menjadi penonton nomor satu yang ikut tersenyum ketika bibirnya mengembang.

Aku mengetahui nama panjangnya, nama panggilan teman-temannya sejak SMP. Warna favorit, movie kesukaannya, genre cerita yang sering dibacanya. Bahkan lagu yang akhir-akhir ini dia dengar. Memiliki nomor, yang bahkan tidak pernah kucoba untuk memberanikan diri sejenak meminta agar namaku juga tertera dari sekian banyak kontak di hapenya.

Aku berusaha menggali banyak hal, untuk orang yang bahkan tidak peduli apakah kita memiliki suatu kesamaan untuk berada di poros yang sama. Merasa memiliki tanggungjawab untuk mendengar alasan kenapa aku masih mendengarkan lagu boyband nomor satu Negeri Gingseng meski sudah memasuki tahap pendewasaan?

Dia tidak pernah tahu bahwa kami memiliki hobi yang sama.

Kebiasaan yang sama ketika dilanda cemas.

Dia menolak peduli.

Tidak pernah berniat mencari tahu.

Karena dirinya yang seberkilau itu, tidak akan pernah tahu bahwa aku pernah hadir di dunia ini.

Dia tidak tahu namaku, cerita di belakangnya sehingga ditetapkan seperti ini. Tak satu hal pun. Bahkan cinta dalam diam yang amat menggebu ini.

Apakah ini sia-sia atau suatu kesia-siaan?

Apa bedanya?

Hanya sesuatu hal yang sama, yang tidak akan pernah 'sama'.

Selasa, 26 Juli 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 (Tiga) Karya Alicia Lidwina - Sebuah Ulasan

3 (Tiga) by Alicia Lidwina Sebelum itu saja jelaskan kalau ini adalah karya pertama yang saya baca dari Alicia Lidwina, yang memberikan pengalaman luar biasa. Jujur, jauh dari sudut hati terdalam. Aneh sekali baca karya bertema seperti ini. Meski sudah satu-dua kali membaca cerita dengan tema serupa ada bumbu suicide di dalamnya. Tapi karya Alicia Lidwina ini beda, benar-benar beda. Alurnya maju-mundur, tapi enggak bikin pusing. Benar-benar ngalir. Enggak sekali dua kali, saya nangis jelek.  Kalimat ini, atau blurb buku ini; “Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.” Bikin bertanya-tanya, 'kan? Setelah membaca kurang-lebih 200 halaman. Saya jadi berpikir, kalau mereka-yang-kunci-utama-cita-cita-ini-adalah-Hashimoto-berpikir untuk membangun panti asuhan kenapa dia menyerah? Bahkan deposit yang mereka kumpulin sudah lumayan banyak...